Happy B'day to u Beb @NurdiansyahAM Slideshow: Putri’s trip to Yogyakarta was created with TripAdvisor TripWow!
Sabtu, 04 Agustus 2012
Ini hanya soal berbeda memilih kok..
cerita ini mungkin usang tapi bagi saya cerita ini tak akan pernah usang karena ini soal hidup..
saya anak pertama dari 2 bersaudara, kami dibesarkan di keluarga yang bisa dibilang mengenal agama dengan kuat juga tidak tapi tidak mengenal agama juga tidak,,ya bolehlah dibilang setengah-setengah setidaknya di KTP kami berempat tertulis agama kami masing-masing termasuk di C1.
Cerita ini berawal dari 3 tahun yang lalu, saat KTP bapak habis dan harus diperbarui. Waktu itu saya berencana menikah di tahun berikutnya maka ibu menyarankan pada bapak untuk memperbarui KTP sekaligus mengganti agama yang tertulis di KTP yaitu Katholik. Ibu tentu punya alasan kuat kenapa meminta bapak melakukan itu, bukan memaksakan kepercayaannya. Ibu beragama Islam. Ibu bilang "Bapak itu sudah Islam, soalnya waktu sebelum nikah sama ibuk sudah di Islamkan sama Pak Murdo dan mengucapkan kalimat Syahadat dan ada saksi-saksinya juga. Kalo nanti agamanya masih katholik bapak ga bisa jadi wali nikah mu". Saya cukup tersentak dan tertegun beberapa saat mendengar pendapat ibuk, jadi walaupun bapak kandung saya tapi berbeda agama tetap ga bisa menikahkan anak perempuannya ? ini pertanyaan menggelitik tentunya. Saya jawab dengan entengnya "kan ada nanang bu". Nanang itu adek laki-laki saya yang di KTP nya tertulis beragama Islam sama dengan KTP saya. Diskusi hari itu berhenti begitu saja dan bapak tetep memperbarui KTP tanpa mengganti agamanya. Saya pikir bapak pasti punya alasan yang mungkin tidak bisa disampaikan waktu itu. Dan waktu pun berlalu, KTP kami bertiga tetap Islam dan Bapak Katholik sama juga dengan di C1 dan kami menjalani kehidupan dengan mengalir saja dan sampai tahun depan pun rencana saya menikah juga mundur artinyatidak terlalu pusing lagi soal agama di KTP.
Setahun yang lalu beberapa hari sebelum Natal tiba, hari minggu saat semua kumpul di rumah, tiba-tiba bapak terjatuh di deket kamar saya dan ternyata sudah terjatuh di kamar mandi. Yaa..kaki dan tangan bapak lemas di sebelah kiri susah untuk digerakkan. Seketika saya berpikir bapak kena serangan Stroke. Ibu cukup tenang menghadapi situasi ini. Dan saya belajar banyak soal ini dari ibu karena kepanikan hanya akan memperparah keadaan. Kami bujuk bapak untuk ke RS tapi bapak menolak dan meminta saya untuk ke rumah Pak Heri Gosong salah 1 teman bapak yang bekerja di RS Betesda dan punya obat penurun tekanan darah tinggi. Bapak sudah ga bisa dibantah karena tekanan darahnya akan naik. saya dan nanang ke rumah Pak Heri Gosong di Lapangan Krang Kotagede, pak Heri langsung menghubungi dokter senior Betesda ternyata sedang diluar kota dan disarankan langsung ke UGD RS Betesda saja karena stroke itu tidak boleh terlambat penanganan bisa sampai fatal akibatnya. Pak Heri pun menghubungi bapak untuk mau berobat ke RS. Akhirnya bapak mau, itu pun hanya mau diantar naik motor. Oke kami mengalah dan ber4 kami berangkat naik motor. Sampai depan UGD, Bapak menolak digandeng, menolak tidur di kasur dorong. Bapak diperiksa diruang scan setelah itu bapak justru semakin lemas dan ga bisa berdiri lagi akhirnya diputuskan untuk opname. Singkat cerita bapak marah dan selama beberapa hari ga mau ngobrol dengan saya dan ibu karena gara-gara dibawa kerumah sakit malah jadi opname *tepok jidat*. Bapak orangnya keras, belum boleh turun dari kasur memaksa untuk turun dan dimarahi oleh suster. Hari ke-4 bapak baru mau berkomunikasi dengan kami, setiap hari saya dan ibu tidur disana, anang jaga rumah.
Suatu hari 2 hari sebelum natal, ada Pendeta datang ke kamar bapak dan ibu diminta menunggu diluar. Ibu mendengar percakapan keduanya :
pendeta : Bapak beragama katholik?
bapak : iya
pendeta : pernah dibaptis ?
bapak : pernah
pendeta : nama baptis bapak ?
bapak : Yohanes
Dan Pendeta mengajak bapak berdoa Bapa Kami..Diluar sana ibu tertegun, kaget. Kenapa ? selama 26 tahun menikah ibu ga pernah tahu kalo bapak pernah dibaptis. perasaan ibu tentu saja campur aduk dan mungkin ini sedikit menjawab kenapa beberapa waktu yang lalu bapak tetap tidak mau mengganti agama di KTP nya. Prosesi berdoa selesai, ibu masuk ke kamar dan memanggil bapak dengan "Pak Yohanes". Seketika mereka berdua tertawa terbahak-bahak. bapak hanya senyam-senyum. Saat saya adatang ibu bercerita kejadian tadi dan yang bikin saya terharu adalah saat ibu bilang "yaa..nanti kalo kamu nikah walinya bukan bapak ya nduk" dengan kalem saya bilang "iya bu saya santai kok siapapun walinya". Saya tahu itu pasti berat untuk ibu saya tapi sudahlah saya tidak mau keluarga saya dipermainkan agama.
Setelah kejadian itu pun tidak ada yang berubah, justru saya banyak ngajak ibu ngobrol soal agama, keyakinan dan soal tidak beragama yang itu menjadi hak individu karena menganut atau tidak itu berkaitan dengan personal dan apa yang diyakininya termasuk apa yang diyakini bapak. Dan saya mendorong untuk ibu suport bapak menjalankan ibadahnya. Sejak saya kecil saya memang belum pernah melihat bapak berdoa ataupun pergi ke Gereja kecuali suatu malam di beberapa bulan yang lalu. Waktu itu saya pulang jam 12 malam, ada kebiasaan kalo saya dan nanang belum pulang ibu dan bapak tiduran di depan tivi sambil menunggu kami pulang. Waktu itu ibu sudah tidur dan bapak nonton tivi. Saya masuk kamar untuk ganti baju lalu keluar lagi untuk nonton tivi. Saya kaget saat melihat bapak berdoa dengan membentuk tanda salib "Atas Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus" laludiam tertunduk lama. saya pura-pura tidak melihat , beberapa saat kemudian bapak tidur. Entah kenapa ada perasaan lega saat itu, ini pertama kalinya saya lihat bapak berdoa. Setelah ini saya harus suport bapak untuk menjalankan apa yang diyakininya termasuk menawarkan diri untuk menemani pergi ke gereja. Saya tidak asing dengan gereja dari SD - SMA bolak balik masuk gereja karena saya bersekolah di sekolah swasta katholik.
esok harinya saya bercerita pada ibuk tentang tadi malam dan ini untuk meyakinkan ibu soal pilihan bapak akhirnya ibu pun setuju. Lalu saat itu saya flashback masa kecil saya. Saya ingat betul orangtua saya tidak pernaha memaksakan sayaharus beragama apa. Sejak SD sampai SMA bapak menyekolahkan saya di sekolah swasta katholik, entah kenapa saya suka sekali. Sedikitpun saya ga tertarik untuk masuk Sekolah negri atau swasta islam. Bukan hal gampang bagi saya menjalani 6 tahun di SDKanisius Pugeran, 3 tahun di SMP Stella Duce 2 dan 3 tahun di SMA Pangudi Luhur untuk mempelajari agama Katholik karena salah1 mata pelajaran yang diujikan. tidak berhenti disitu, setiap sore ibu mewajibkan saya untuk ikut TPA untuk belajar surat-surat pendek, iqro sampai membaca Al-Qur'an. Yaa..menurut saya cukup imbang lah orangtua saya memperkenalakan saya pada agama hingga akhirnya saya memutuskan sendiri. Saya ingat benar, kelas 4 SD saya bilang ke ibu "Ibu aku pengen beragama katholik biar punya nama baptis, bisa bikin telur paskah dan bisa dikasih hadiah sama sinterklas" dengan kalem dan tersenyum ibu hanya bilang "iya gpp, nanti kalo kamu mauke gereja bisa bareng sama Mbak nini sekeluarga". Diskusi hanya berhenti disitu, saya tetep belajar di sekolah, keluar masuk gereja yang jadi pelajaran wajib di sekolah dan keluar masuk masjid untuk pengajian dan sholat. SMP saya sudah mulai puasa walaupun teman-teman ga puasa dan kantin tetap buka, hal ini terjadi sampai SMA. Justru ditempat ini saya cukup belajar tentang toleransi, keberagaman, bahwa puasa itu urusan personal bukan tanggungjawab banyak orang termasuk harus memaksa warung makan tutup hanya karena kepentingan kita berpuasa, buat saya pribadi tindakan itu norak dan puasanya hanya sebatas sepiring nasi dan segelas minuman. Saat lebaran tiba semua teman mengucapkan selamat lebaran dan saya menerima dengan senang hati walaupun saya masih ingat betul waktu itu dibilang kalo diucapkan slamat lebaran oleh non muslim itu ga perlu dijawab. Ini lebih norak daripada yang tadi bukan ? Saya si tetep cuek saja toh beragama itu urusan masing-masing dengan Tuhannya sendiri kok. Saat Paskah dan Natal saya juga mengirimi mereka kartu Natal dan datang kerumah beberapa teman. Lagi-lagi waktu itu dibilang haram hukumnya mengucapkan selamat natal bagi seorang muslim. Haduuuuhhh orang iseng mana lagi si yang bikin aturan kayak gini. Lagi-lagi saya cuek bebek.
Nah yang lebih bikin panas telinga dan marah adalah saat bertebaran spanduk-spanduk yang bertuliskan "menyekolahkan anak di sekolah non muslim bagiumat muslim hukumnya haram". Arrrrggggghhhhh..ini puncak kemarahan saya.Ini negara apa si ? apa-apa kok diukur dengan halal dan haram dengan ukuran mayoritas. Memangnya yang bilang haram tadi mau gitu membiayai saya sekolah ? saya sekolah dengan biaya sendiri dari orangtua kenapa mendadak ada orang yang seenak udelnya menjudge haram. Ahh sudahlah pikir saya itu cuma orang yang pengen eksis dan kurang kerjaan aja.
saya selalu berpikir bahwa agama itu membebaskan manusia bukan memenjarakan manusia. Batasannya tidak harus dosa dan enggak atau halal atau haram tapi bagaiamana agama mampu mengajarkan tentang saling menghargai, menghormati, toleransi, kesetiakawanan, kasih sayang sesama, berbuat baik, mengakui perbedaaan, mempertanggungjawabkan segala tindakan yang dipilih bukan malah membuat takut dan membebani penganutnya.
yaaa..26 tahun sudah saya dibesarkan di keluarga berbeda agama yang mana sejak awal diperkenalkan 2 agama dan bebas untuk menentukan pilihan akan memilih yang mana. Sampai detik ini keluarga saya masih bahagia, komunikatif, demokrasi termasuk nantinya memutuskan siapa yang akan jadi wali saya saat menikah. Saya tetap berharap bapak saya bisa menjadi wali tanpa harus merubah agama dalam KTP maupun agama yang diyakininya.
untuk bapak dan ibu :
kalian orangtua paling hebat ! bersatu karena berbeda
untuk Jantan Putra Bangsa :
siap-siap jadi wali nikah ku hehe..kalo bapak ditolak jadi wali nikahku di KUA *lembaga bikinan manusia*
regards,
peluk ciyum
Sahur on d'road ala Backpacker
dan..jam pun menunjukkan pukul 00.30 WIB, bersiap dunk saya meluncur dengan seorang teman ke Bundaran UGM Yogykarta, mau ngapain pagi buta gini ? singkat cerita bareng sama temen-temen Backpacker Indonesia aka BPI Regional Jogja ngadain acara "Sahur on d' road" eciieee...sahurnya ditengah jalan gitu cieee...bolak-balik bbm, sms, nelpon ke Afi tetep ya tu anak molornya ga karuan. Sukses banget jam 00.46 baru kebangun juga dengan muka linglung hehe..Saya aja direlain ga tidur dari sore dan mending nongkrong di Angkringan Wongso Nitipuran bareng sama Dewo, Teplok dan De'ia biar ga ngantuk, secara ya kalo udah tidur saya juga kayak kebo susah bangun dan poinnya ga mungkin dibangunin sama ibuk soalnya ga rela gitu anaknya perempuan satu-satunya ni kelayapan tengah malam hehe..
Nah, jam 01.20 sukses juga kami otw ke Bundaran UGM, sampai di titik 0 km bingung sendiri dan sempet ngobrol sama Afi "Ni kenapa manusia-manusia ini pada selo banget ya fi nungguin sahur sampai jam segini ?" eh dijawabnya sama Afi "ealah put, ni itu malam minggu ya,,lagian ini masih jam 1-an kalik kayak ga inget aja kalo pulang jam segini kan emang masih rame banget.." *dyaaaarrr!!plok plok plok*langsung tertampar*manggut-manggut kalem*. singkatnya kita udah nyampe di Bunderan UGM, celingak celinguk eh ada mas Yayak yang dadah dadah sambil tereak-tereak busyeett dah !*isin* langsung deh ya naroh motor salim satu persatu kayak lebaran biar berkah katanya.
jam 02.00 pak Ketua mas Oci namanya baru datang sodara-sodara bawa backdrop Backpacker Indonesia langsung dunk pasang muka cantik dan ganteng biarpun pagi buta tetep narsisnya ga ketinggalan. udah kelar lenggak lenggok depan kamera langsung deh kami meluncur untuk bagi-bagi nasi untuk sahur.
Rute dimulai dari Bunderan UGM - Galeria Mall - UKDW - Lempuyangan - Timoho - Kusumanegara dan terdamparlah kami di Alun-Alun Utara depan Kraton Yogyakarta. Ada sekitar 50 nasi bungkus dan air mineral yang dibagikan. Kami pikir itu udah banyak banget ternyata eh ternyata masih kurang banget hiks..next time bisa jadi pertimbangan kalo mau sahur on d'road lagi..
Sepanjang jalan, jadi terfikir gini "gilak ya, saya aja mau sahur milih-milih lauk dan sayur biar pas di perut dan makannya lahap belum lagi minumnya dan buahnya, aahhh maluuuuu banget rasanya orang-orang ini bisa sangat sederhana memaknai sahur dan mensyukurinya". dan ini tamparan kedua di pagi buta. akhirnya kami sahur bersama. jam 03.30 saya dan Afi pamit soalnya punya tanggungjawab belikan ibuk sayur untuk sahur secara ya dirumah yang sahur cuma bertiga aku, ibuk dan sepupu saya.
kami pulang dengan perasaan lega dan sedikit berkecamuk. hari ini belajar lagi soal hidup yang sederhana.
trimakasih untuk semua orang sepanjang jalan ini untuk kesederhanaannya...dan untuk teman-teman backpacker semoga kita bisa selalu berbagi :D
regards,
Minggu, 01 April 2012
Saya dan Ibuk = Perempuan
Hari ini hari dimana saya bisa berbincang mesra dengan perempuan yang melahirkan saya mendiskusikan banyak hal termasuk soal hidup saya beberapa bulan terakhir atau mungkin beberapa tahun. saya memanggilnya "ibuk" tentu tetap dengan akhiran "K" untuk menegaskan perempuan ini berbeda dengan perempuan lain. Beliau bercerita tentang hasil pengamatannya beberapa waktu ini, menurutnya saya mengalami tingkat stres yang cukup tinggi dan hampir sama sekali tidak berusaha mendiskusikan dengan siapapun termasuk beliau. 3 tahun yang lalu menjadi batas akhir dimana saya cukup terbuka untuk mendiskusikan banyak hal dengan Ibuk tapi sejak beberapa kejadian dalam hidup saya yang membuat saya enggan bercerita banyak dengan ibuk karena ya saya pikir ini akan menambah beban pikiran tapi ternyata ibu membaca hal itu tetapi memang membiarkan saya larut untuk menyelesaikannya sendiri karena ibuk juga bukan tipe yang suka ikut campur urusan orang lain maupun anaknya sendiri [baca:saya dan adik saya].
Di banyak hal saya dan ibuk tidak pernah cocok dan selalu beradu pendapat yang terkadang berujung pada saling mendiamkan dari soal cara berpakaian, mengelola uang, kegiatan yang diikuti, gaya hidup, kebersihan, potongan rambut, model sepatu, model tas dan masih banyak lagi tetapi 1 hal yang membuat saya dan ibu cocok karena kami sama-sama perempuan.
Sejak 3 hari yang lalu ibuk baru tahu kalau ternyat ada luka menganga di anak perempuan satu-satunya ini, selama ini ibuk hanya menebak-nebak semua perilaku ku dan terjawablah semua hal. Ibuk hanya bisa terdiam sejenak, menarik nafas lalu dengan usahanya untuk mempertahankan agar air matanya pun tidak tumpah ruah karena beliau tahu pasti akan tumpah juga air mata saya, ibuk bilang "ini semua proses yang sudah berhasil kamu lewati, nduk setidaknya pernah mengenal lebih dekat dan mampu berproses itu bagian dari hidup kamu dan sekarang ibuk tahu apa yang harus ibuk lakukan untuk mengobati lukamu". Dan secara bersamaan kami menghela nafas sangat panjang rasanya beban di dada seketika terbang.LEGA.
Dan hari ini menjadi hari yang bagi saya adalah sebuah titik penentuan hingga 14 hari kedepan..
salam,
peluk erat *ibuk*
Di banyak hal saya dan ibuk tidak pernah cocok dan selalu beradu pendapat yang terkadang berujung pada saling mendiamkan dari soal cara berpakaian, mengelola uang, kegiatan yang diikuti, gaya hidup, kebersihan, potongan rambut, model sepatu, model tas dan masih banyak lagi tetapi 1 hal yang membuat saya dan ibu cocok karena kami sama-sama perempuan.
Sejak 3 hari yang lalu ibuk baru tahu kalau ternyat ada luka menganga di anak perempuan satu-satunya ini, selama ini ibuk hanya menebak-nebak semua perilaku ku dan terjawablah semua hal. Ibuk hanya bisa terdiam sejenak, menarik nafas lalu dengan usahanya untuk mempertahankan agar air matanya pun tidak tumpah ruah karena beliau tahu pasti akan tumpah juga air mata saya, ibuk bilang "ini semua proses yang sudah berhasil kamu lewati, nduk setidaknya pernah mengenal lebih dekat dan mampu berproses itu bagian dari hidup kamu dan sekarang ibuk tahu apa yang harus ibuk lakukan untuk mengobati lukamu". Dan secara bersamaan kami menghela nafas sangat panjang rasanya beban di dada seketika terbang.LEGA.
Dan hari ini menjadi hari yang bagi saya adalah sebuah titik penentuan hingga 14 hari kedepan..
salam,
peluk erat *ibuk*
Sabtu, 31 Maret 2012
Dan saya seorang perempuan: Stigmatisasi Perempuan
Dan saya seorang perempuan: Stigmatisasi Perempuan: Di media sudah santer terdengar tentang pengamanan demo tolak kenaikan BBM akan dilakukan oleh Polwan di garda depan, saya sempat tertegun...
Dan saya seorang perempuan: Stigmatisasi Perempuan
Dan saya seorang perempuan: Stigmatisasi Perempuan: Di media sudah santer terdengar tentang pengamanan demo tolak kenaikan BBM akan dilakukan oleh Polwan di garda depan, saya sempat tertegun...
Stigmatisasi Perempuan
Di media sudah santer terdengar tentang pengamanan demo tolak kenaikan BBM akan dilakukan oleh Polwan di garda depan, saya sempat tertegun dengan berita itu dan mencoba mencerna dengan sangat hati-hati. Yak! Polwan seorang perempuan dan coba dihadirkan di garda depan untuk menghadapi aksi massa yang penuh dengan kemarahan, kejengkelan dan berbagai tuntutan yang dipicu oleh rencana pemerintah untuk menaikkan harga BBM dengan asumsi untuk menyehatkan perekonomian negara dengan mengurangi subsidi untuk BBM. Saya coba gambarkan massa aksi yang mayoritas adalah laki-laki dan polwan harus berhadapan dengan mereka. Mungkin suatu kebanggaan saat perempuan dilibatkan baik dalam massa aksi maupun pengamanan oleh negara artinya kami sudah setara dengan laki-laki tapi sebentar terlalu terburu-buru untuk menyimpulkan seperti itu kawan!
Kenapa saya katakan terlalu terburu-buru karena dalam budaya patriarki yang masih sangat mengakar di kepala dan sampai aliran darah masyarakat kita justru menempatkan perempuan bukan sebagai seseorang yang setara, punya hak yang sama dan berdaulat atas dirinya dan hidupnya tetapi menempatkan perempuan sebagai hiasan, pelengkap dan makhluk yang tidak berdaulat atas tubuh dan hidupnya, misalnya : saya sangat sedih saat mendengar alasan diturunkannya Polwan sebagai garda depan pengamanan aksi demo Tolak Kenaikan BBM karena "apalah Polwan itu, tidak mungkin pendemo akan menyerang mereka" lalu dibeberapa liputan media saat Polwan diwawancarai senjata apa yang mereka bawa, jawabannya "senjata kami adalah senyuman". Statement yang pertama sangat jelas menunjukkan bahwa selama ini dimata aparat keamanan yang merupakan alat negara pun masih menganggap rendah perempuan seolah-olah perempuan haya sebagai pelengkap, penghibur, objek pelecehan dan olok-olok-an, Polwan tidak diakui keberadaannya berdasar prestasi, kemampuan dan kekuatannya. Statement kedua pun juga tidak menjadi salah saat itu keluar dari Polwan itu sendiri karena ya inilah hebatnya Patriarki hingga membuai laki-laki mengedepankan kuasanya dan perempuan menjadi korban yang tidak pernah menyadarinya. Diturunkannya Polwan untuk menghalau pendemo jelas bukan keputusan yang bijak karena justru membuat perempuan menjadi rentan terhadap aksi kekerasan baik fisik, psikis maupun sosial misal ada tindakan pelecehan seksual yang menimpa Polwan. Dan lagi-lagi Polwan juga tidak bisa menolak karena atas perintah atasan yang notabene seorang laki-laki.
Lain halnya untuk perempuan-perempuan yang terlibat di berbagai aksi, mereka dengan sadar melakukan hal ini tetapi terkadang ruang penyampaian masih sangat kurang karena massa aksi masih didominasi oleh kaum laki-laki. Setidaknya usaha untuk mengekspresikan dan menyampaikan tuntutan sudah dilakukan bukan hanya sebagai pelengkap, hiasan dan penggembira dibeberapa aksi yang dilakukan.
Pemandangan yang saya tuliskan bisa kita lihat saat Aksi tolak kenaikan BBM yang dilakukan hari Sabtu, 31 Maret 2012 di depan Gedung Agung Jogja, Polwan dipajang berdiri berjejer didepan pintu gerbang Gedung Agung di depan massa aksi yang mayoritas laki-laki. Hujatan, makian, siulan, kalimat-kalimat berbau pelecehan dilontarkan, saya masih terima kalau itu terlontar untuk institusi Kepolisian tetapi menjadi tidak terima saat terlontar untuk Polwan yang notabene seorang perempuan, lagi-lagi perempuan jadi objek pelecehan hanya karena arogansi laki-laki.
Untuk semua perempuan,,
mari selalu menjadi perempuan yang merdeka, berdaulat atas tubuh dan hidup kita buka diperalat oleh orang lain.
Untuk semua laki-laki,,
mari bergerak bersama dan membuat perubahan bersama kami [baca:perempuan] dengan menempatkan perempuan sebagai subjek yang setara dan berdaulat.
Karena perubahan ditangan kita KAUM MUDA bukan ditangan negara!
regards
*bighug*
Kenapa saya katakan terlalu terburu-buru karena dalam budaya patriarki yang masih sangat mengakar di kepala dan sampai aliran darah masyarakat kita justru menempatkan perempuan bukan sebagai seseorang yang setara, punya hak yang sama dan berdaulat atas dirinya dan hidupnya tetapi menempatkan perempuan sebagai hiasan, pelengkap dan makhluk yang tidak berdaulat atas tubuh dan hidupnya, misalnya : saya sangat sedih saat mendengar alasan diturunkannya Polwan sebagai garda depan pengamanan aksi demo Tolak Kenaikan BBM karena "apalah Polwan itu, tidak mungkin pendemo akan menyerang mereka" lalu dibeberapa liputan media saat Polwan diwawancarai senjata apa yang mereka bawa, jawabannya "senjata kami adalah senyuman". Statement yang pertama sangat jelas menunjukkan bahwa selama ini dimata aparat keamanan yang merupakan alat negara pun masih menganggap rendah perempuan seolah-olah perempuan haya sebagai pelengkap, penghibur, objek pelecehan dan olok-olok-an, Polwan tidak diakui keberadaannya berdasar prestasi, kemampuan dan kekuatannya. Statement kedua pun juga tidak menjadi salah saat itu keluar dari Polwan itu sendiri karena ya inilah hebatnya Patriarki hingga membuai laki-laki mengedepankan kuasanya dan perempuan menjadi korban yang tidak pernah menyadarinya. Diturunkannya Polwan untuk menghalau pendemo jelas bukan keputusan yang bijak karena justru membuat perempuan menjadi rentan terhadap aksi kekerasan baik fisik, psikis maupun sosial misal ada tindakan pelecehan seksual yang menimpa Polwan. Dan lagi-lagi Polwan juga tidak bisa menolak karena atas perintah atasan yang notabene seorang laki-laki.
Lain halnya untuk perempuan-perempuan yang terlibat di berbagai aksi, mereka dengan sadar melakukan hal ini tetapi terkadang ruang penyampaian masih sangat kurang karena massa aksi masih didominasi oleh kaum laki-laki. Setidaknya usaha untuk mengekspresikan dan menyampaikan tuntutan sudah dilakukan bukan hanya sebagai pelengkap, hiasan dan penggembira dibeberapa aksi yang dilakukan.
Pemandangan yang saya tuliskan bisa kita lihat saat Aksi tolak kenaikan BBM yang dilakukan hari Sabtu, 31 Maret 2012 di depan Gedung Agung Jogja, Polwan dipajang berdiri berjejer didepan pintu gerbang Gedung Agung di depan massa aksi yang mayoritas laki-laki. Hujatan, makian, siulan, kalimat-kalimat berbau pelecehan dilontarkan, saya masih terima kalau itu terlontar untuk institusi Kepolisian tetapi menjadi tidak terima saat terlontar untuk Polwan yang notabene seorang perempuan, lagi-lagi perempuan jadi objek pelecehan hanya karena arogansi laki-laki.
Untuk semua perempuan,,
mari selalu menjadi perempuan yang merdeka, berdaulat atas tubuh dan hidup kita buka diperalat oleh orang lain.
Untuk semua laki-laki,,
mari bergerak bersama dan membuat perubahan bersama kami [baca:perempuan] dengan menempatkan perempuan sebagai subjek yang setara dan berdaulat.
Karena perubahan ditangan kita KAUM MUDA bukan ditangan negara!
*bighug*
Langganan:
Postingan (Atom)

